Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Pare (Paria)

Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Pare (Paria)
Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Pare (Paria)
RudiEtnovian.Com - Saya yakin teman-teman semua sudah tidak asing lagi dengan tanaman sayuran tahunan yang memiliki buah dengan rasa yang cukup pahit ini.

Tanaman ini biasa dikenal dengan nama Pare atau Paria. Mungkin beda daerah akan beda lagi namanya.

Meskipun rasa buahnya pahit tapi Pare merupakan salah satu sumber Vitamin C, Vitamin A, Fosfor dan Besi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.

Bahkan bagian ujung batangnya saja mengandung Pro-Vitamin A, Protein, Tiamin dan Vitamin C.

Kalau cara penyajiannya pas, saya yakin teman-teman yang awalnya tidak suka dengan sayuran yang memiliki rasa yang pahit pun bakalan ketagihan memakannya.

Nah, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Pare (Paria) tersebut. 

Untuk melakukan Budidaya Tanaman Pare ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

SYARAT TUMBUH

Tanaman Pare ini sangat cocok dibudidayakan di daerah dengan ketinggian 1 - 1.000 mdpl dengan ph tanah 5 - 6.

Tanaman Pare ini juga dapat beradaptasi dengan baik di tanah lempung berpasir dengan drainase yang baik dan kaya bahan organik.

Suhu tumbuh optimumnya sendiri yaitu berkisar antara 24° - 27° C.

PERSIAPAN BENIH

Kebutuhan benih untuk lahan seluas 1 hektar yaitu sekitar 5 - 7 kg dengan populasi tanaman mencapai 13.000 - 17.000 tanaman per hektarnya.

PERSIAPAN LAHAN

Pada umumnya tanaman Pare ini ditanam diatas bedengan dengan lebar bedengan 1.5m - 2.5m dan tinggi bedengan 20cm jika penanaman pada musim kemarau dan 30cm untuk penanaman di musim penghujan.

Untuk panjang bedengan sendiri bisa menyesuaikan dengan kondisi lahan.

Bedengan dan Jarak Tanam Tanaman Pare
Bedengan tanaman pare

Sedangkan untuk jarak tanamnya sendiri bervariasi, pada umumnya untuk kesampingnya (lebar) ada yang memggunakan 75cm x 75cm atau 100cm x 100cm dan untuk memanjangnya ada yang menggunakan jarak 45cm - 60cm atau 120cm - 150cm antar barisan.

Jarak tanam dibuat lebih lebar karena akan digunakan untuk memasang tiang (media) rambatan.

Media Rambat Tanaman Pare
Contoh rambatan tanaman pare

Kemudian untuk pupuk dasarnya bisa menggunakan pupuk kandang sebanyak 10 - 15 ton / hektar, yang bisa diberikan pada saat pengolahan dengan dicampur merata dengan tanah atau dengan penempatan pupuk kandang hanya di masing-masing lubang tanam saja.

PENANAMAN BENIH

Penanaman benih dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara disemai terlebih dahulu atau ditanam langsung pada lubang tanam di bedengan (cocok dilakukan pada saat musim hujan).

Dalam satu lubang tanam berisi 2-3 biji benih Pare dan ditimbun (ditanam) dengan kedalaman sekitar 2-3 cm.

Benih tersebut akan mulai berkecambah setelah berusia 7 hst.

Nanti setelah tanaman mempunyai 4 helai daun sejati, lakukan penyortiran dengan menyisakan hanya satu tanaman pare tersehat saja pada tiap lubang tanam.

Kemudian penanaman dengan cara disemai terlebih dahulu tersebut dilakukan ketika berencana akan menanam pada musim kemarau.

Hal ini dilakukan untuk meminimalisir tingkat kematian (gagal tumbuh) bibit di lahan tanam. Sehingga saat tepat dilakukan untuk penghematan penggunaan bibit, apalagi jika stok bibit Pare yang dimiliki terbatas.

Media semai yang digunakan berupa campuran tanah dan pupuk kandang  dengan perbandingan 1 : 1 dengan jarak tanamnya 2x2cm.

Bibit siap dipindah ke lahan tanam setelah berusia 3 minggu setelah semai atau setelah memiliki 4 helai daun sejati.

PEMUPUKAN

Pemupukan susulan pertama diberikan setelah tanaman berusia 3 minggu.

Pemupukan dilakukan dengan interval 2 minggu sekali sampai tanaman berusia 4 bulan.

Pupuk susulan yang digunakan yaitu NPK (15:15:15) dengan takaran 5-10 gram per tanaman dengan cara ditabur ke dalam yang berjarak sekitar 10cm dari pangkal tanaman.

PEMELIHARAAN

Lakukan penyiangan gulma secara rutin seminggu sekali bersamaan dengan melakukan pembumbunan. Penggunaan mulsa sangat disarankan karena dapat menekan pertumbuhan gulma.

Tanaman Pare merupakan salah satu tanaman yang membutuhkan banyak air. Sehingga perlu dilakukan penyiraman rutin setiap hari di saat musim kemarau.

Selain itu, pembuatan parit di sekeliling bedengan sangat diperlukan untuk mengurangi genangan air di saat musim penghujan.

Pemberian media penopang atau media rambatan diperlukan untuk meningkatkan produksi buah, mengurangi pembusukan buah serta memudahkan dalam pengendalian OPT dan pemanenan.

Pemasangan media rambatan dapat mulai dilakukan saat tanaman sudah berusia 3 minggu. Media rambatan dapat berupa tiang ajir dari bambu, kayu, teralis dan tunnel setinggi 1.5m - 2m.

Pemangkasan dilakukan saat tanaman sudah berusia 3 minggu dan 6 minggu. Pemangkasan ini dilakukan untuk membuang cabang samping yang sudah tidak produktif lagi.

PENGENDALIAN OPT

Apabila kondisi tanaman Pare terawat dengan baik, maka tanaman akan sangat jarang mendapat serangan penyakit maupun serangan hama.

Hama yang banyak ditemukan pada tanaman Pare, yaitu lalat buah, kutu daun, Epilachna sp., Thrips, tungau dan siput.

Untuk pengendalian lalat buah sendiri bisa dilakukan dengan membungkus bakal buah (panjang 2cm-3cm) satu per satu menggunakan kertas atau plastik atau menggunakan perangkap lalat buah.

Penyakit yang paling umum ditemukan pada tanaman Pare, yaitu layu bakteri, layu fusarium, embun tepung, serkospora dan virus (CMV).

Pengendalian yang dapat dilakukan saat tanaman Pare sudah terkena penyakit tersebut yaitu dengan mencabut tanaman yang terserang penyakit atau menggunakan fungisida secara selektif.

PANEN DAN PASCAPANEN

Pemanenan dengan tujuan konsumsi dilakukan saat buah Pare belum terlalu tua, bintil dan keriputnya masih rapat. Proses pemanenan sebaiknya memggunakan pisau atau gunting yang tajam.

Sedangkan pemanenan dengan tujuan untuk dijadikan benih dilakukan saat buah Pare sudah matang ditandai dengan berubahnya buah Pare menjadi berwarna kuning dan pembungkus biji di dalamnya berwarna merah.

Tanaman Pare mulai dapat dipanen saat berusia 55 hari setelah tanam. Pemanenan dapat dilakukan berkali-kali untuk merangsang pembentukan buah baru. Karena dengan adanya buah yang terlalu banyak maka akan menghambat pembungaan.

Produksi tanaman Pare ini dapat mencapai 10-20 buah/tanaman atau sekitar 10-15 ton/hektar.

Proses sortasi sangat diperlukan untuk memisahkan buah yang rusak dan berpenyakit agar kualitas hasil panen tetap terjaga.

Buah Pare sendiri termasuk salah satu buah yang tidak bisa disimpan terlalu lama. Jadi setelah dipanen harus segera dipasarkan.

Daya simpan buah Pare dapat mencapai 2-3 minggu apabila buah Pare disimpan pada suhu 12°C - 13°C dan kelembaban 85-90%.
Demikianlah Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Pare (Paria) tersebut. Semoga bisa memberikan manfaat.

Rudi Etnovian Hadi Kurniawan
Rudi Etnovian Hadi Kurniawan Agen HNI HPAI Sekaligus Seorang Blogger dan Menyediakan Jasa Pembuatan Website Sejak Tahun 2008
Iklan